Banner Ad Space

Runtuhan| Terang Lilin Pada Tubuhnya ( A Syaifudin S)


Engkau adalah cahaya maka terangilah aku
sebagaimana terang lilin pada tubuhnya.

Perputaran alam semesta begitu cepatnya, baru lahir tadi pagi  sudah menginjak usia senja begitulah waktu yang sering berganti, bangun dan tidurnya mentari tak hilang dari selimut gelapnya kidung rembulan malam hari. Burung - burung tak pernah capek bersiul, bintang - bintang tak capek berkedip sebab yang capek adalah keikhlasan yang batal yang tak jadi ihklas.

Lilin di sulut api barusan, 2 jam meleleh usianya sudah selamat tinggal, bekasnya tersisa bayangan malam itu yang bisa di ingat meski cahayanya sudah sirna tinggalkan jiwanya. Bagaimana dengan terang lampu tak mampu mengingatkan apa - apa kecuali listrik mati. begitu terang lilin hidupkan meski usianya cepat terbakar.

Dimana cahaya bersinar? kemana arahnya ? dan bisakah kembali? selanyaknya merah - merah di timur, yak meledak setiap pagi, bukankah engkau menunggunya? sebagai tanda itu adalah aktivitas segera di mulai di tuliskan oleh semesta, tapi tidak semuanya seperti itu, sebab kelelawar lebih mendewakan malam, siang hanya sebagai pertapaan.

Maka terangilah aku, selayaknya terang lilin pada tubuhnya, bekas - bekasnya tetap tersisa meski apinya selalu menunduk dan padam seketika.

28.01.2020

Posting Komentar