PUISI | Tai Asu ( A Syaifudin S)

TAI ASU
Oleh : A. Syaifudin S.
siang itu panas sekali
ubun kepala mulai mendidih
jalan - jalan ramai
panjang antri pengendara seperti kereta api
ia turun dari angkot plat merah, berpakaian jas rapi
berjalan karena tak tahan haus rupanya
belok kiri ada selokan ambil air comberan
nafasnya berdesak- desak
lidahnya di ulur - ulur
perutnya keroncongan
lapar ku kira
tidak
ia hanya mengelus perut buncitnya
yang berisi aspal korea, sisa - sisa beton,
sisa proyek, sisa sumbangan
dan sisa - sisa yang sebenarnya bukan makanan
sewajarnya
capek
ia bersandar di tiang listrik perempatan
memeluk koper yang berisi uang ratusan
tiap hari tetap saja memungut uang
uang pengendara, uang tetangga,
uang rakyak lebih tepatnya
jauh lebih dari pengemis rupanya
malang, 14 Oktober 2019
siang itu panas sekali
ubun kepala mulai mendidih
jalan - jalan ramai
panjang antri pengendara seperti kereta api
ia turun dari angkot plat merah, berpakaian jas rapi
berjalan karena tak tahan haus rupanya
belok kiri ada selokan ambil air comberan
nafasnya berdesak- desak
lidahnya di ulur - ulur
perutnya keroncongan
lapar ku kira
tidak
ia hanya mengelus perut buncitnya
yang berisi aspal korea, sisa - sisa beton,
sisa proyek, sisa sumbangan
dan sisa - sisa yang sebenarnya bukan makanan
sewajarnya
capek
ia bersandar di tiang listrik perempatan
memeluk koper yang berisi uang ratusan
tiap hari tetap saja memungut uang
uang pengendara, uang tetangga,
uang rakyak lebih tepatnya
jauh lebih dari pengemis rupanya
malang, 14 Oktober 2019
