Banner Ad Space

Dan aku tidak akan pernah lulus untuk belajar Karya A Syaifudin S

 

 

Sampai saat ini aku mungkin belum bisa mengartikan kelulusan. Entah ini hanyalah perayaan atau sebatas informasi bahwa kelulusan adalah akhir dari sebuah pendidikan. Begitulah orang bodoh seperti ku mencari hal yang sebenarnya sudah banyak orang memahami. Akhir dari perjalanan ini bisa jadi adalah awal dari segala permulaan yang baru, jadi mungkin bukanlah akhir, tapi naik level. Kalau ditanya apa tujuanku hidup, aku pasti akan memikirkan hal ini lama sekali. Sebab bisa jadi hidup ini adalah proses terus menerus mencari tujuan, jika sudah bertemu dengan tujuan hidup lantas apakah hidup ini benar-benar selesai?

Sepertihalnya kalau ditanya soal cita-cita, apa cita-citamu? Dan engkau menjawab ingin menjadi seorang DPR. Dan dikemudian hari engkau menjadi seorang DPR, lantas apakah engkau sudah mewujudkan cita-citamu? Jika sudah maka selama ini kita hanyalah ingin nama profesinya saja agar kelihat keren dipandang orang sekitar. Bukankah yang harus dikembangkan pertanyaannya setelah meraih cita-citamu apa yang ingin kamu lakukan? Sehingga merujuk pada cara kerja dan peranmu itu sendiri. Dengan seperti itu mungkin orang tidak hanya akan terselimuti oleh identitas profesi tapi tahu cara kerjanya. Jangan sampai seluruh cita-cita kita pada akhirnya hanya bisa merugikan lingkungan sekitar.

Nah, Tanggung jawab seorang mahasiswa yang baru lulus sepertiku ini penuh dengan dilema yang menggelisahkan. Sebab memang menurutku ini bukan akhir  justru naik level untuk mempertanggung jawabkan segala bidang keilmuan yang sudah ditempuh. Bukan cita-cita yang sudah terwujud, karena masih dalam tahap perjalanan. Kemudian sebenarnya apa arti kelulusan ini? Aku hanya memberikan pertanyaan yang tidak wajib untuk dijawab. Bagiku ini sangat membesonkan. Tapi bukankan sebenarnya belajar itu tidak ada lulusnya?.

Setiap tahunnya ribuan mahasiswa dari kampus manapun di nyatakan lulus. Entah aku, engkau, mereka benar-benar menjadi seorang sarjana atau hanya kampus ingin cepat-cepat mengeluarkanku, engkau dan meraka dari perguruan tinggi karena bisa jadi ternyata aku sendiri adalah mahasiswa sampah yang dipaksa lulus. Jujur saja kesarjanaan ini hanya tersertifikasi oleh kertas, bahkan yang mengeluarkannyapun juga tidak pernah tahu kita yang kita sebenarnya. Bukan kita yang hanya duduk di kursi bangku perkulihan, mengerjakan tugas, mengumpulkan dan sudah selesai diakui sebagai seorang sarjana. Meski secara definisi Sarjana memang adalah orang yang pandai dan dinyatakan lulus dari perguruan tinggi, selain itu seorang sarjana adalah orang yang dekat dengan guru dan ilmu. Sebenarnya Sarjana itu seperti apa? Aku adalah orang bingung yang sering menertawakan  hal ini hahaha.

Kebetulan pada suatu ketika aku membuka sebuah buku setebal dukali daun pintu rumahku. Disana aku menemukan hal yang bahkan aku sendiri tidak pernah membacanya. Ternyata di atas sarjana ada yang namanya Sujana. Selain di artikan orang pandai sujana juga di artikan orang pandai yang bijak. Sebab yang di utamakan bukan akal, tapi rasa. Gelar Sujana tidak lagi di berikan oleh perguruan tinggi, tapi diberikan oleh masyarakat sekitar lewat laku kehidupan. Mungkin benar adanya jika sekolah, kuliah bukan tanda kita berpikir. Ia hanyalah tempat, dan tempat itu tergantung siapa yang menempati.

 Maka sebenarnya aku tidak akan pernah lulus dalam hal belajar.

Posting Komentar