Aku Mulai Paham Bahwa Dasar Dari Belajar Adalah Rasa Ingin Tahu Karya A Syaifudin S
19/9/2021
Pagi itu matahari memberikan kabar indah pada kami. Taburan cahayanya menyetuh
dipertanahan halaman rumah tengah belajar, langkah kaki anak-anak yang diiringi dengan bayang-bayangnya, menghantarkan pesan rasa ingin tahu. “Hari ini
mau ngapain?”
Sepertinya
anak-anak ini adalah seorang ilmuan. Sebab sekelas Albert Einstein saja dan
kawan-kawannya untuk mengadakan rapat, diskusi, mereka tidak akan memulainya sebelum
ada pertanyaan yang menyelimuti segala pikirannya. Dari situ aku mulai paham
bahwa dasar dari belajar adalah rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut
juga dijadikan konsep pendidikan KI Hajar Dewantara yaitu pendidikan yang memerdekakan, membebaskan rasa ingin tahu setiap orang. Segala ekspresi anak-anak sebisa
mungkin selalu kami pupuk agar bisa tumbuh untuk sampai pada konsep tersebut.
Ceritanya
hari ini kami memilih untuk berkebun, beda dari yang sebelumnya dilaksanakan di
Sumber Gentong. Tapi sekarang kami berkebun di rumah singgah tengah belajar,
sebab kami ingin membuat tempat belajar yang lebih hijau dan sejuk sebagai
tempat mengekspresikan segala rasa ingin tahu yang kami miliki.
Semua itu dimulai dari proses pencarian tanah yang jauh di area sungai Sumber Gentong.
Jika tidak benar-benar ingin melakukan berkebun aku yakin anak-anak akan
duduk-duduk dan bermain hp seperti saat mereka datang. Tapi aku percaya anak-anak
ini akan menjadi benih yang tumbuh di mana saja, ia akan tahu kapan ia harus
bermain, ia akan tahu kapan ia harus belajar, atau bahkan ia tahu sekarang ia
sedang bersama siapa dan sedang apa. Dan saat itulah aku hanya bisa menunggu kedatangannya di rumah singgah tengah belajar karena aku akan menyiapkan menu special untuk mereka jika nanti sudah mulai kelaparan hehe.
Tiba-tiba tak lama kemudian dari belakang krucil-krucil sebut
saja namanya Azka dan Elisa menghampiriku di dapur, menurutku mereka adalah
anak yang lucu dan tanggap, dengan membawa bertetes-tetes keringat di wajahnya
ia mengucapkan “capek kak !!”. Sepertinya ia baru lari-lari untuk segera ke ruang tengah
belajar. Kemudian setelah itu disusul dari belakang teman-teman lain yang membawa
sekresek tanah untuk menanam benih yang sudah kami siapkan.
Belum
sampai pada proses penanaman anak-anak sudah kelihatan capek dan lusuh, wajahnya
yang merah-merah kepanasan, belum mau untuk diajak menanam, sebagai seorang
teman belajar kamipun tidak memaksakan, kami membiarkan anak-anak istirahat
dulu, bermain-main dulu satu sama lain sambil menunggu waktu yang tepat. Di sela -sela
waktu, Elisapun menangis, aku mencoba memahami pada anak-anak, pertengkaran baginya
adalah hal yang wajar. Ia menangis hanya gara-gara berebut bola ping pong, tapi
yang perlu kita contoh sebagai orang dewasa, anak kecil bertengkar hanya
sesaat, jika sudah ia akan baikan dan bermain kembali tanpa ada rasa kebencian.
Lantas bagaimana kita yang sudah menjadi orang dewasa ini? Bertengkar tapi yang
tumbuh adalah dendam.
Seketika kamipun menyelimurnya untuk memulai proses penanaman. Kami tuangkan tanah sekresek itu untuk di pindahkan ke polybag yang sudah ada. Sambil belajar menanam, anak-anak justrus malah bermain membuat patung-patungan. Tanah digenggaman tangannya disulap menjadi bola-bola kecil dan bentuk-bentuk unik lainnya. Aku heran sebenarnya memang mereka adalah anak kreatif, mampu memiliki ide yang bahkan tidak kami ajari pada waktu itu. Proses ini berjalan kurang lebih 45 menitan, bermain tanah, air, tangan dan kaki diselimuti oleh lumpur. Hari ini tidak seperti hari sebelum-belumnya. Belajar pada minggu ini tidak ada akhirnya, sebab ketika disudahi anak-anak masih saja bermain-main di rumah tengah belajar, menunggu kakak-kakak lainnya masak, menunggu kakak-kakak lainnya tiduran karena juga capek. Hingga pada waktu yang di tunggu-tunggu laparpun tiba dan saat itulah kami mengisi perut yang bernyanyi dari pagi hingga siang itu.
Sepertinya cukup sampai sini, aktivitas
minggu ini dipenuhi dengan permain-permainan yang tidak di rencanakan. Datang
secara tiba-tiba yang selalu diselimuti oleh senyum dan tawa. Semoga aktivitas
itu terus belanjut dan banyak hal baru yang bisa kita mainkan untuk anak-anak
kecil seperti mereka.Jadikan anak kecil menjadi benih yang bisa tumbuh di
mana saja, kita sebagai teman belajar hanya bisa menjadi pupuk untuk pengantar pertumbuhannya.
#Semangat
Belajar

